We Are 

#oneokrock #lirik #Ambitions

We are
We are
We are
We are

They think that we’re no one
We’re nothing, not sorry
They push us
It’s too late, It’s too late
Not going back

Yume wa owari me o samasu toki
zetsubou ya kibou mo dōjini me o samashi ta

kagami ni utsutta boku ga toikakeru
jibun o gomakashiikiru koto ni ji wa aru ka

When you’re standing on the edge
So young and hopeless
Got demons in your head
We are, we are
No ground beneath your feet
Now here to hold you
cause we are, we are
The colors in the dark

Hidoku itamu kodō wa hayaku
tōnoku keshiki o kono te de tsukamo u to shita

They are the weakest
They don’t even know
Anything they say
Will never break our hearts of gold

When you’re standing on the edge
So young and hopeless
Got demons in your head
We are, we are
No ground beneath your feet
Now here to hold you
cause we are, we are
The colors in the dark

Never tell yourself
You should be someone else
Stand up
tell and say
I’m not afraid, I’m not afraid
So never tell yourself

You should be someone else
Stand up
tell and say
I’m not afraid

When you’re standing on the edge
So young and hopeless
Got demons in your head
We are, we are
No ground beneath your feet
Now here to hold you
cause we are, we are
The colors in the dark
TAGS: !lyrics, jrock: one ok rock

Standard

Langgas Ibu Pertiwi

Merdeka!
Belum sempat kuteriakkan kata itu
Belum sempat kukoar-koar kata itu
Dan belum sempat kumemekik kata itu
Merdeka dari apa?
Dari penjajah belum tetap kata merdeka untuk kita
Kita masih dijajah, dilecehkan, dicemoohkan, ditindas, bahkan diskriminasi
Di tanah tumpah darah kita sendiri
Merdeka kata para pejuang terdahulu
Merdeka 1945 tapi tidak merdeka di 2016

Ketika waktu sudah mulai memangsa Negeri ini,
Di mana teman, di mana sahabat? Rekan-rekan? Bung-bung?
Di mana saudara?
Di mana pula para bajingan?
Kita semua terlampau busuk berbicara persoalan yang bulat
Kita lupa, bahwa kita adalah manusia akhirnya

Hendak kemana tangan kecil meminta
Di peraduan raja tak jua didengar
Salah zamankah?
Atau penguasa memenjarakan raga?

Rupanya ego bersejajar dengan nurani
Memanjat kepuasan diatas bumi yang dipijak
Menelantarkan belas kasih
Membenamkan mereka yang merongrong meratap-ratap

Hai penguasa
Semoga engkau selalu kaya
Semakin kaya
Dan aku bahagia
Tapi belum…
Sebelum pedang ini menembus dadamu
Sebelum negeri api melumat otakmu
Hurra…
Aku ingin, kelak kita sama-sama di sana

Terimakasih kepada kontributor:
/1/ @naniflorest – naniflorest.wordpress.com
/2/ @aliffebry – catatankosongblog.wordpress.com
/3/ @aina – ainafirdauz.wordpress.com
/4/ @ameliyaalbie – ameliyaalbie.wordpress.com
/5/ @tikussehat – lagusiul.wordpress.com

Standard

Welas tak Dikasih

Merdeka, katanya…
Tapi nyatanya?
Tanah surga, katanya…
Tapi nyatanya?

Masih banyak mereka yang terseok
Memeras keringat
Tanpa peduli panas menyengat
Hujan menderas
Jalan jadi tempatnya beraktifitas
Kolong jembatan jadi rumah terbaik
Untuk raga lelah terusik

Berlagu sendu, haru, pilu
Berkelahi dengan waktu
Belum jua mujur bertamu
Tuan di seberang geta tetap saja bisu

Anak anak di jalanan
Membawa plastik permen
Gigi kuning dipamerkan
Perempuan tak bersisir
Menyisakan nasi di sangkunya
Kering, berumur satu minggu
Orang orang kalah bersaing
Berebut udara untuk paru-parunya

Kaki kecilmu kau bawa meniti jalan raya
Meminta sekeping koin kau bernyanyi
Berharap nyanyianmu bisa terdengar sang raja
Merdeka katanya
Nyatanya hanya nada harapan hampa.

Gertak. Sentak. Retak.
Waktu telah memukul telak
Badan lelah beringsut takut
Luka duka berliku menyulut

Inilah kami anak jalanan
Menggelandang tak tahu ke mana pulang
Tapi masih terus berani berangan
Menggapai mimpi yang walau nanti hanya dikenang.
Sedang tuan raja di sana,
Biarlah buncitmu meledak terbang ke udara
Seperti janji manis tak terkira
Yang kini hilang tak berarah.

Terimakasih kepada kontributor:
/1/2/ @aksaramdhani – aksaramdhani.wordpress.com
/3/ @desayuls – lastingsoul27.wordpress.com
/4/ @diandrafl – diandrafl.wordpress.com
/5/ @julychameleon – julychameleon.wordpress.com
/6/ @YasierFadilah – yasierfadilah.wordpress.com
/7/ @arshanovya – sastratika.wordpress.com

Standard

Jarak dan Semisalnya

​Kolaborasi Puisi Group 2*

1/
Semisal bidadari
kita adalah dua sayap yang saling melengkapi
Jarak yang jadi penyeimbang kedua sisi
Dan rasa percaya yang menjadikannya terbang tinggi

2/
Semisal puisi
Kamu adalah asal kata yang tertulis
Menjadikanku bait yang bermaknakan kita
Pada tiap tiap lembar kertas usang,
Berisikan tentang segala

3/
Semisal mawar,
Ingin ku memetikmu untuk kumiliki
Dan kusimpan untuk diriku sendiri
Biar jarak yang kan menghidupkanmu
Dan kasih yang kan menyegarkanmu

4/
Semisal tinta
Menuntun goresan kata penuh makna
Yang berdongeng sebuah kisah
Kisah terbendung jarak membatas rindu
Namun, tertulis abadi

5/
Semisal angin
Berhembus pelan menyapa kalbu
Menyampaikan rasa rindu merasuk hati
Membawa kerinduan menggebu-gebu
Jarak tak lagi berkisah
Dua insan hati menunggu untuk bertemu..

6/
Semisal jarak
Adalah pertemuan kita
Semisal waktu
Adalah pengikat kita
Maka aku rela berada diantara jarak dan waktu
Aku rela rinduku terjaga
Aku yakin
Esok… lusa… Rindu akan menjemput kita
Untuk berjumpa

Terimakasih kepada Kontributor:
/1/ @desayuls — lastingsoul27.wordpress.com
/2/ @diandrafl — diandrafl.wordpress.com
/3/ @elvanamutiafitri — (belum punya blog)
/4/ @chanzinyuu — chanzinyuu.wordpress.com
/5/ @julychameleon — julychameleon.wordpress.com
/6/ @erlisbudiarti — erlisbudiarti.wordpress.com

Standard

Pena Ku dan someone.

#sastra #puisi #kolabs

Hanya sedikit berharap.Penaku akan selalu membawaku dalam kebahagiaan,walau aku dan sajak ku berbeda dengan kenyataan.

Aku akan sedikit berharap tangis itu akan tertutup,walau kebahagiaan itu mungkin hanya sedikit singgah dalam kefanaan

Tangis adalah rupa kesedihan dan Tawa adalah rupa kebahagiaan, ketika mereka menyatu itu warna kehidupan sejati dari kefanaan ini.

Tapi sepertinya sulit sekali menyatukan warna itu.Harus tetap tersenyum dalam kepahitan fana.

k.A

Standard

Tentang Mantan

Kolaborasi Puisi Geng 1

Molekul
Kaulah molekul yang melekat sempurna dalam ingatan
Meretas jengkal demi jengkal ruang angan
Mengacaukan syaraf yang bertugas melupakan
Menyisakan aku dalam satu dimensi yang kusebut kenangan

Membosankan…
Biar kuteriak mengusir nyawa
Peluhku senampak fatamorgana

Tak cukupkah kau membuatku risau,
Memporakporandakan seluruh aku
Hanya dengan sunggingan di bibir
Tak panjang memang, cukup satu senti
Namun mampu membuatku hilang ingatan
Tolong, berilah aku ruang untuk bergerak

dari jauh aku melihatmu.
mengingatkanku waktu masih bersama.
kau masih seperti yang dulu
tidak berubah sedikit pun.
dengan gayamu yang biasa biasa saja tapi mampu menjadi cahaya ditengah tengah orang di sekitarmu
gayamu yang konyol, gayamu yang ceroboh, sikapmu yang hangat dan senyuman manismu masih sama seperti dulu…

Kontributor:
/1/ @desayuls — lastingsoul27.wordpress.com
/2/ @tikussehat — lagusiul.wordpress.com
/3/ @diandrafl — diandrafl.wordpress.com
/4/ @julychameleon — julychameleon.wordpress.com

Standard

Sepertiga malam

Di sepertiga malam,malam itu

aku bertemu sosok mirip denganku tapi bukan aku.Garis wajahnya meneduhkan menyejukan,berada di sampingnya melaraskan rasa aman.

Di sepertiga malam,malam itu

Genggaman tanganya yang hangat,menggenggam erat tangan kotor ini,mengajak ku berjalan melewati gersangnya gurun hati.Melewati gunung gunung es beku menusuk tajam tapak ini.

Di sepertiga malam,malam itu…

Standard